Pemaknaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap Pembatasan Konten Politik di TikTok: Analisis Kualitatif dalam Perspektif Hegemoni Gramsci
DOI:
https://doi.org/10.54371/jiip.v9i2.10742Abstract
Penelitian ini mengeksplorasi fenomena pembatasan konten politik di TikTok melalui sudut pandang mahasiswa Ilmu Komunikasi. Di tengah meningkatnya penggunaan TikTok sebagai sarana komunikasi politik, kebijakan moderasi konten yang tidak transparan menimbulkan diskursus mengenai kontrol informasi di ruang digital. Penelitian kualitatif ini menggunakan tipe pendekatan fenomenologi untuk menggali esensi pengalaman subjektif mahasiswa terhadap mekanisme pembatasan konten, yang kemudian dianalisis menggunakan teori hegemoni dari Antonio Gramsci. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima mahasiswa Ilmu Komunikasi yang aktif memproduksi dan mengonsumsi konten politik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tipologi pemaknaan meliputi (1) konsensus teknis pembatasan dianggap sebagai aturan wajar platform; (2) dominasi terselubung yang dimaknai sebagai sensor halus; dan (3) negara digital dalam platform dianggap memiliki otoritas politik yang hegemonik. Temuan ini mengindikasikan bahwa TikTok bekerja sebagai intelektual organic yang mengarahkan kesadaran pengguna melalui algoritma. Meskipun terdapat upaya kontra hegemoni melalui penggunaan bahasa kode (algospeak), hegemoni digital tetap dominan dalam membentuk perilaku swasensor (self censorship) mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembatasan konten politik di TikTok merupakan bentuk kontrol sosial halus yang mengancam kualitas demokrasi di ruang publik digital.







