Ekranisasi Novel Keluarga Cemara 2 Karya Arswendo Atmowiloto ke dalam Film: Sebuah Kajian Sastra Bandingan
DOI:
https://doi.org/10.54371/jiip.v7i8.5297Abstract
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap novel "Keluarga Cemara 2" karya Arswendo Atmowiloto dan film adaptasinya "Keluarga Cemara 2" karya Ismail Basbeth menggunakan metode kualitatif sastra bandingan, dapat disimpulkan bahwa bentuk alih wahana, atau ekranisasi, menyebabkan terjadinya perubahan berupa penciutan, penambahan, dan perubahan variasi terhadap elemen-elemen seperti tema, tokoh, dan latar. Penelitian ini menunjukkan 60 data penciutan, 20 data penambahan, dan 6 data perubahan variasi. Penciutan merupakan bentuk alih wahana yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini. Penciutan terhadap unsur tema terlihat dari hilangnya prinsip kejujuran yang ditanamkan pada tokoh Abah. Penciutan paling banyak dilakukan pada unsur tokoh karena banyak tokoh yang terlibat dalam novel tetapi tidak memiliki peran yang kuat dan hanya muncul dalam satu atau dua adegan, seperti Sayo, Supir Dedi, Lili, Kae, Kinanti, Nur, Neneh, Onah, dan lainnya yang telah disebutkan pada tabel penciutan. Penciutan terhadap tokoh juga dilakukan untuk menghindari konflik yang terlalu banyak yang dapat mempengaruhi durasi film, serta untuk mengurangi biaya produksi. Selain penciutan, penelitian ini juga menganalisis penambahan dalam film yang menunjukkan adanya penambahan pada unsur tokoh dan latar tempat, seperti Mang Ujang, Kang Romli, Pak Sobari, Deni, Aril, dan lainnya. Penambahan ini dilakukan untuk menggantikan tokoh-tokoh yang dikecilkan dan memastikan tokoh-tokoh yang terlibat relevan dengan penceritaan yang diangkat serta karakter tokoh di novel yang mengalami perubahan variasi pada film.