Al-Ashil dan Al-Dakhil Penafsiran “Ayat Melihat Tuhan” dalam Tafsir Al-Kasysyaf
DOI:
https://doi.org/10.54371/jiip.v7i8.5669Abstract
Al-Dakhil dalam tafsir merupakan suatu aib atau cacat yang sengaja ditutup-tutupi dan disamarkan hakikatnya serta disisipkan di dalamnya beberapa bentuk tafsir al-Qur’an yang otentik. Ulama’ yang vokal membicarakan al-Dakhil adalah al-Dzahabi dalam karyanya al-Ittija’ al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an Karim. Salah satu mufassir yang ia kritik adalah Zamakhsari dengan tafsirnya yaitu Tafsir al-Kasysyaf. Zamakhsari merupakan salah satu tokoh yang berpedoman pada pendapat Mu’tazilah, hingga pada penafsirannya pun, Zamakhsari selalu menjadikan teori Mu’tazilah sebagai rujukan dan pertimbangan dalam menafsirkan. Salah satu prinsip Mu’tazilah yaitu Keesaan Allah, Mu’tazilah menolak adanya tajsim atau penyerupaan Tuhan dengan makhlukNya, maka dengan demikian, al-Qur’an surat al-Qiyamah yang menyebutkan kemampuan melihat di akhirat, Zamakhsari tidak menafsirkan kosakata melihat Tuhan dengan makna dzahir, akan tetapi dimaknai dengan harapan dapat melihat Tuhan.